MENEBUS KESALAHAN SECARA POSITIF
Ceramah Maha Guru Ching Hai
http://www.gsn-soeki.com/wouw/
Suatu hari ketika Mahatma Gandhi sedang berpuasa di India,
ada seseorang menghampiri beliau dan berkata, “Saya pasti akan masuk
neraka dan tak seorang pun dapat menyelamatkan saya. Tapi saya masih
ingin mempersembahkan makanan untuk Anda karena Anda berpuasa untuk
kami. Saya tidak ingin Anda meninggal karena kelaparan dan menambah
daftar kesalahan saya ketika saya masuk neraka.” Orang itu
menawarkan Gandhi sepotong roti dan memohon kepada Beliau untuk
memakannya, sambil berkata, “Mohon Anda memakan roti ini, saya tidak
akan siap untuk masuk neraka sampai Anda memakan roti ini.”
Gandhi bertanya kepada orang tersebut, mengapa dia berpikir
dia akan masuk neraka. Orang itu menjawab, anaknya telah dibunuh
dalam suatu pertikaian. Jadi, sebagai balasan, dia telah membunuh
anak musuhnya tersebut dengan kejam, tapi sesudahnya dia merasa
sangat menyesal. Gandhi lalu berkata, “Saya tahu satu cara untuk
selamat dari api neraka. Carilah seorang anak lain yang sudah tidak
memiliki orang tua atau anak lainnya yang tanpa orang tua, bawalah
anak itu ke rumah, pelihara dan didiklah dia sehingga menjadi
seorang yang bijaksana. Maka Anda tidak akan masuk neraka.”
Saya pikir cara yang disarankan Gandhi tidak secara langsung
dapat menghapus karma orang itu, kita juga tidak tahu apakah metode
tersebut bisa menyelamatkan orang itu dari neraka. Paling tidak rasa
bersalahnya mungkin akan terhapus selama sisa hidupnya. Juga dia
mungkin mengalami jalinan kebahagiaan antara anak dengan ayah ketika
membesarkan anak tersebutDengan mengadopsi seorang anak yatim piatu,
maka akan membuatnya percaya diri dan puas; hal ini merupakan obat
untuk mengurangi rasa bersalahnya.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/
Jika orang itu terus menerus mengeluhkan rasa bersalahnya,
hal ini tidak akan menolongnya sama sekali. Siapa yang dapat
menolongnya ? Kita akan menyalahkan diri kita setiap hari, kita
tidak dapat menghapus rasa bersalah dalam hati ketika kita tahu kita
telah melakukan sesuatu yang buruk, kecuali kita mengalami suatu
kegembiraan yang dapat mengurangi rasa bersalah yang terdahulu, dan
menguranginya seolah tidak pernah terjadi.
Ketika kita tenggelam dalam kegelapan, kita tidak dapat
berkomunikasi dengan orang lain; kita menjadi acuh-tak-acuh dengan
apa yang dikatakan orang. Bahkan ketika mereka menceritakan sesuatu
yang lucu, paling-paling kita hanya tersenyum kemudian mengubur
kembali diri kita dalam perasaan negatif, tidak mampu membuat diri
kita bahagia; karena kesenangan itu tidak ada hubungannya dengan
rasa bersalah kita.
Penyesalan yang sesungguhnya ialah mengajar diri sendiri,
membantu diri sendiri, mendukung diri sendiri dan mengingatkan diri
sendiri untuk melakukan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Kita harus mencatat hal-hal yang kita ketahui baik untuk diri
sendiri dan orang lain, dan melakukannya sebaik mungkin. Sementara
itu, kita harus mengubah kebiasaan buruk kita satu per satu hingga
tidak ada yang tersisa.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/
Jadi, kita perlu untuk memperhatikan kedua aspek itu
daripada berkutat dengan perasaan bersalah setiap hari dan tinggal
dalam kegelapan tanpa mencoba suatu solusi yang positif. Itu tidak
baik dan tidak berguna bagi kita. Kita harus mencari jalan keluar,
dan ketika kita melakukan perbuatan baik, kita akan merasa nyaman,
termotivasi dan secara pelahan-lahan melupakan dosa-dosa kita.
Dengan cara ini kebiasaan buruk kita akan berubah secara alami dan
kita akan memaafkan diri sendiri..
Kita mendengar bahwa pelaku kejahatan masuk neraka untuk
belajar dan menebus kesalahan mereka. Tapi ada cara yang lebih baik,
cara yang lebih positif. Misalnya, jika di masa lalu kita mencuri
uang, sekarang tidak hanya kita berhenti mencuri, tetapi kita juga
harus memberi; kita harus beramal dan membantu orang yang butuh
bantuan. Kita jangan hanya pasif dan negatif, sebaliknya, kita harus
aktif dan positif! Jika kita hanya berhenti melakukan perbuatan
negatif, masih sangat pasif. Kita harus melakukan perbuatan baik
untuk memperbaiki kesalahan yang terdahulu. Tindakan yang aktif dan
positif, dan hal itu dapat menghapus dosa kita..
(Adapted from:http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000622.php)
3 TIPE MANUSIA
Tipe Pertama : MANUSIA BATU
Sebuah batu, bila dicelupkan kedalam air, tidak dapat mengubah air.
Memang sejenak air menjadi keruh akibat butiran pasir atau debu yang
menempel di batu itu. Tapi tak lama, air kembali menjadi bening karena
akhirnya kotoran – kotoran itu mengendap di dasar penampan air.
Tipe manusia seperti BATU ini, tidak dapat memberi pengaruh dan membawa
perubahan terhadap lingkungannya.
Tipe Kedua : MANUSIA SODA
Minuman soda, bila dicampurkan kedalam air, sudah barang tentu akan
mengubah warna air dengan cepat. Kemudian air itu berbusa… naik keatas…
terus keatas… hingga air tumpah dari penampannya. Tapi setelah itu air
menjadi surut dan dengan drastis menjadi berkurang.
Tipe manusia SODA ini, sekilas mampu membawa perubahan pada
lingkungannya.
Tapi sebenarnya, ia menghancurkan lingkungan tersebut. Seolah – olah ia
memotivasi lingkungan, padahal ia menjerumuskan. Hingga akhirnya yang
selamat tinggallah sedikit.
Tipe Ketiga: MANUSIA EFFERVESCENT
Mungkin Anda kenal Redoxon atau CDR. Bagaimana kalau benda ini
dicelupkan kedalam air?
Betul, dengan perlahan air menjadi kuning, kemudian setelah itu berubah
menjadi orange.
Adakah air yang tumpah?, Sedikit sekali bahkan nyaris tak ada.
Tipe manusia EFFERVESCENT, adalah manusia yang mampu memberi pengaruh dan membuat perubahan sejati. Ia mempengaruhi lingkungan dengan
perlahan…perlahan… sabar… hingga akhirnya lingkungannya benar -benar
berubah.
Akankah air menjadi bening kembali?… tentu tidak.
Ia akan tetap berwarna kuning / orange.
(Adapted from: http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000572.php)
Recent Comments