WISATA ALAM SUMATERA BARAT

17 03 2008

Danau Maninjau

250px-maninjau.jpg
Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan Gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan. Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 KM mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.

Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran. Read the rest of this entry »





Mesin Stirling

21 02 2008

Mesin Stirling

Dalam keluarga mesin kalor, Mesin Stirling didefinisikan sebagai mesin regenerasi udara panas siklus tertutup. Dalam konteks ini, siklus tertutup berarti bahwa fluida kerjanya secara permanen terkurung di dalam sistem, di mana mesin siklus terbuka seperti mesin pembakaran internal dan beberapa mesin uap, menukarkan fluida kerjanya dengan lingkungan sekitar sebagai bagiaan dari siklus kerja. Regenerasi berarti bahwa adanya penggunaan alat penukar panas internal, yang dapat meningkatkan efisiensi mesin. Banyak sekali kemungkinan dari penggunaan mesin stirling ini, dengan mayoritas masuk ke kategori mesin dengan piston tolak balik. Mesin stirling secara tradisional diklasifikasikan ke dalam mesin pembakaran eksternal, meskipun panas bisa didapatkan dari sumber selain pembakaran seperti tenaga matahari maupun nuklir. Mesin stirling beroperasi melalui penggunaan sumber panas eksternal dan heat sink eksternal, masing-masing dijaga agar memiliki perbedaan temperatur yang cukup besar. Read the rest of this entry »





FENOMENA SALJU

21 02 2008


Salju, Fenomena Alam yang Menakjubkan : Cintaku Sehangat Salju
Febdian Rusydi (Rijksuniversiteit Groningen)

SAAT ini di Eropa dan wilayah utara bumi tengah musim dingin.Salah satu fenomena menarik saat musim dingin adalah salju. Menjadi unik karena kristal-kristal es yang lembut dan putih seperti kapas ini hanya hadir secara alami di negeri empat musim atau di tempat-tempat yang sangat tinggi seperti puncak gunung Jayawijaya di Papua. Kenapa salju secara alami tidak bisa hadir di wilayah tropis seperti negeri kita?

Proses pembentukan salju

Untuk menjawab itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju. Berawal dari uap air yang berkumpul di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi (yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau padat), kemudian menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan, massanya jauh lebih kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung di udara � persis seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun, setelah kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut, massanya juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi menahannya. Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi. Read the rest of this entry »





Artikel Mesin CNC

21 02 2008


MESIN CNC
Pendahuluan
Awal lahirnya mesin CNC (Computer Numerically Controlled) bermula dari 1952 yang dikembangkan oleh John Pearseon dari Institut Teknologi Massachusetts, atas nama Angkatan Udara Amerika Serikat. Semula proyek tersebut diperuntukkan untuk membuat benda kerja khusus yang rumit. Semula perangkat mesin CNC memerlukan biaya yang tinggi dan volume unit pengendali yang besar. Pada tahun 1973, mesin CNC masih sangat mahal sehingga masih sedikit perusahaan yang mempunyai keberanian dalam mempelopori investasi dalam teknologi ini. Dari tahun 1975, produksi mesin CNC mulai berkembang pesat. Perkembangan ini dipacu oleh perkembangan mikroprosesor, sehingga volume unit pengendali dapat lebih ringkas.
Dewasa ini penggunaan mesin CNC hampir terdapat di segala bidang. Dari bidang pendidikan dan riset yang mempergunakan alat-alat demikian dihasilkan berbagai hasil penelitian yang bermanfaat yang tidak terasa sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat banyak.
Read the rest of this entry »





Mengelas Molekul Dengan Radiasi Nuklir

21 02 2008

Mengelas Molekul Menggunakan Radiasi Nuklir

   Apabila mendengar kata nuklir, maka kejadian di Nagasaki dan Hiroshima lebih dari setengah abad yang lalu segera muncul dalam benak kita. Di penghujung Perang Dunia II itu, nuklir menunjukkan sosoknya dalam bentuk yang mengerikan. Dia menghancurkan dan memorak-porandakan kedua kota Negeri Sakura itu sampai rata dengan tanah.

  Citra suram berkaitan dengan nuklir itu tidak salah karena memang demikianlah sejarah telah mencatat. Namun demikian, harus disadari bahwa tampilan nuklir dalam bentuk bom nuklir hanyalah salah satu “wajah” yang dimilikinya. Masih banyak “wajah” lain yang ramah dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Salah satu manfaat yang dapat diambil dari nuklir adalah pemanfaatan radiasi yang dihasilkannya untuk “mengelas” molekul, khususnya molekul polimer. Istilah mengelas ini sangat cocok karena memang fenomenanya mirip sekali dengan pengelasan. Molekul polimer satu dengan yang lainnya disambung dengan memberikan titik-titik aktif pada bagian-bagian molekul tersebut. Aktivasi titik titik molekul tersebut mirip dengan pemanasan kawat logam sampai meleleh sehingga memungkinkannya disambung dengan kawat lain. Sebagai hasilnya, molekul satu dengan yang lain berikatan dan membentuk struktur baru berupa molekul berbentuk jejaring. Perubahan struktur ini akan melahirkan bahan dengan sifat yang baru.

Sebuah tim peneliti di Japan Atomic Energy Research Institute (JAERI) berhasil mengelas molekul polimer Polycaprolactone (PCL). PCL merupakan salah satu jenis polimer yang dapat hancur secara alamiah di alam (biodegradable) sehingga dijuluki sebagai polimer ramah lingkungan. Polimer ramah lingkungan ini “dilas” menggunakan radiasi sehingga rantai-rantai molekul PCL terikat satu sama lain (cross-linked). Setelah molekul-molekulnya terikat satu sama lain dan membentuk jejaring, PCL memiliki titik leleh yang lebih tinggi. Pada kondisi normal, PCL meleleh pada temperatur 55 derajat Celsius. Setelah dilakukan penyinaran dengan radiasi, PCL menunjukkan kenaikan titik leleh menjadi setinggi 120 derajat Celsius. Kenaikan titik leleh ini memberikan harapan yang lebih luas dalam pemanfaatan polimer ini, karena selama ini polimer ini kurang dimanfaatkan sebab, salah satunya, titik lelehnya yang terlalu rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyambungan molekul ini ternyata tidak mempengaruhi sifat keramahlingkungannya. Hal ini dikarenakan “pengelasan” tidak mengubah ikatan ester (-COOC-) yang merupakan penentu keramahlingkungannya.

Manfaat lain dari “pengelasan” molekul menggunakan sinar radiasi adalah pembuatan karet berkualitas tinggi. Karet yang diperoleh dengan radiasi memiliki kualitas tinggi karena karet tersebut memiliki kemurnian kimiawi yang jauh lebih tinggi dari karet konvensional. Pada pembuatan karet konvensional, proses vulkanisasi dilakukan dengan menambahkan zat aditif tertentu. Zat aditif inilah yang dikhawatirkan mempengaruhi sifat kimiawi karet yang tersusun dari bahan dasar polyisoprene. Kekhawatiran ini meningkat ketika karet digunakan pada kegiatan yang sangat peka terhadap perubahan sifat kimia, seperti pada bidang kedokteran dan bioteknologi. Jika vulkanisasi dilakukan dengan sinar radiasi, karet yang dihasilkan memiliki kemurnian kimiawi mendekati 100 persen polyisoprene. Karet jenis ini merupakan jawaban terhadap kekhawatiran-kekhawatiran di atas.

Vulkanisasi merupakan istilah yang salah kaprah, istilah yang sebenarnya secara substansi kurang tepat namun sering digunakan. Proses vulkanisasi sebenarnya proses pengikatan (cross-link) molekul polyisoprene sehingga menghasilkan elastisitas pada karet. Dinamakan vulkanisasi karena pada awalnya proses ini dilakukan menggunakan abu gunung berapi. Ketika itu belum diketahui dengan jelas proses yang terjadi di dalamnya. Hasil penelitian akhirnya berhasil menjawab teka-teki ini dan menunjukkan bahwa proses vulkanisasi sesungguhnya merupakan proses pengikatan antarmolekul polyisoprene dengan memanfaatkan unsur belerang yang banyak dikandung di dalam abu gunung berapi. Setelah itu dikembangkan berbagai macam zat aditif pengganti belerang dengan tingkat efisiensi pengikatan yang lebih tinggi. Sinar radiasi merupakan sebuah alternatif dengan keunggulan utama tanpa menggunakan zat aditif. Di Jepang, teknologi ini telah dikomersialisasikan oleh sebuah badan usaha yang dinamakan EB Systems kira-kira tiga tahun yang lalu. Salah satu produk yang dihasilkan berupa sarung tangan berkualitas tinggi untuk keperluan medis dan bioteknologi.

Pengaruh radiasi

Pengaruh radiasi pada molekul bermula dari pemberian energi radiasi kepada atom yang dijumpainya. Pemberian energi ini diterima oleh elektron dari atom-atom penyusunnya dan mengakibatkan terjadinya eksitasi atau ionisasi. Pada logam dan bahan keramik secara umum elektron akan kembali ke kondisi semula setelah melepaskan kembali energi yang dimilikinya. Tetapi tidak demikian halnya pada bahan-bahan organik. Eksitasi atau ionisasi dapat menyebabkan putusnya ikatan kimia dan dapat pula melahirkan ikatan kimia baru.

Pengaruh radiasi yang sangat menarik dapat kita jumpai pada molekul polimer, khususnya polimer dengan bentuk molekul memanjang. Ketika radiasi mengenai bagian rantai panjang molekul tersebut, beberapa titik pada molekul itu teraktivasi membentuk radikal yang sangat reaktif. Radikal yang reaktif ini memungkinkannya membentuk ikatan baru. Terjadinya ikatan ini dalam jumlah yang banyak menyebabkan molekul-molekul yang terikat tersebut akan membentuk jejaring yang memiliki sifat yang berbeda dengan molekul sebelumnya.

Molekul dalam bentuk jejaring tidak mudah bergerak karena molekul satu dan lainnya saling terikat. Oleh karena itu, untuk menjadikan molekul- molekul tersebut bergerak diperlukan energi yang lebih tinggi. Ini mengandung arti bahwa untuk menjadikan bahan tersebut meleleh (molekul bergerak) diperlukan energi yang lebih tinggi dalam bentuk suhu yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pada PCL, pengikatan molekul ini menyebabkan kenaikan titik leleh dari 55 derajat Celsius menjadi 120 derajat Celsius.

Percobaan menggunakan PCL memberikan hasil yang menarik, yaitu bahwa bagian- bagian yang teraktivasi adalah bagian-bagian tertentu, tidak terjadi secara acak. Hal ini terbukti dari tingkat keramahlingkungan bahan tersebut yang tidak berubah setelah proses penyinaran. Tidak terjadinya perubahan ini menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan pada ikatan ester yang ada di dalam rantai utama PCL karena sifat keramahlingkungan ditentukan oleh adanya ikatan ini. Kenyataan ini merupakan fenomena yang menarik terkait dengan efek radiasi pada materi di mana penulis saat ini melakukan penelitian.

Terbentuknya molekul jejaring dapat melahirkan sifat elastisitas yang ditunjukkan pada karet. Hal ini dikarenakan conformation rantai molekul polimer berada dalam keadaan paling stabil dalam bentuk random coil. Oleh karena itu, rantai molekul yang berada di antara titik ikatan membentuk random coil. Kondisi ini memungkinkannya direntangkan menjadi lebih panjang, bahkan dapat berlipat-lipat dari panjang semula jika diberikan energi tertentu dan akan kembali ke kondisi awal jika energi yang diberikan dilepaskan kembali. Selama ini, kondisi ini hanya dapat dilahirkan menggunakan zat aditif yang berperan sebagai “tali pengikat” antarmolekul karet. Penemuan pengikatan antarmolekul karet menggunakan radiasi telah membuka cakrawala baru dalam dunia karet, khususnya berkaitan dengan tingkat kemurnian kimiawi karet yang dihasilkan.

Dibalik manfaat yang dapat diperoleh, ada yang perlu diwaspadai pada pengelasan molekul menggunakan radiasi ini. Pada pengelasan, kawat yang dapat menjadi putus jika pemanasannya berlebihan atau kapasitas mesin las terlalu tinggi. Demikian pula dengan pengelasan molekul dengan radiasi. Radiasi dengan energi tinggi, misalnya, memungkinkan rantai rantai utama molekul polimer terputus. Sebagai akibatnya, molekul polimer terpotong-potong menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Jika ini yang terjadi, bukan jejaring molekul yang didapatkan, justru potongan-potongan molekul yang diperoleh. Polimer yang telah terpotong molekulnya akan mengalami penurunan sifat seperti penurunan sifat mekanik, ketahanannya terhadap suhu dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mengelas polimer diperlukan pemilihan “mesin las” yang tepat, yaitu berupa pemilihan jenis dan energi radiasi serta jumlah dosis radiasi yang diberikan. Pemilihan jenis dan energi radiasi dapat dilakukan melalui pemilihan jenis sumber radiasi, sedangkan jumlah dosis yang diberikan dapat diatur melalui lama penyinaran yang diberikan.

Pengelasan molekul polimer merupakan salah satu manfaat teknologi nuklir. Di samping itu masih banyak lagi aplikasi lain di bidang kedokteran, industri, hidrologi, pertanian, dan sebagainya. Oleh karena itu, sudah waktunya bagi kita untuk melihat kehadiran teknologi nuklir ini secara menyeluruh, adil, dan seimbang tanpa harus dibayang-bayangi oleh citra masa lalu yang telah menjadi bagian dari sejarah teknologi ini yang sekaligus juga merupakan sejarah umat manusia di muka bumi ini.

                          (adapted from:kompas 21 April 2004)





MESIN PERKAKAS

20 02 2008
MESIN PERKAKAS

Mesin Bubut

Bubut merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan (feeding).

Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengna jalan menukar roda gigi translasi (change gears) yang menghubungkan poros spindel dengan poros ulir (lead screw).
Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. roda gigi penukar dengan jumlah 127 mempunyai ke khususan karena digunakan untuk monversi dari ulir metrik ke ulir inchi.

• Prinsip Kerja Mesin Bubut

Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan yang berbentuk ulir.

• Bagian-Bagian Mesin Bubut

Mesin bubut terdiri dari meja (bed) dan kepala tetap (head stock). Di dalam kepala tetap terdapat roda-roda gigi transmisi penukar putaran yang akan memutar poros spindel. Poros spindel akan menmutar benda kerja melalui cekal (chuck). Eretan utama (appron) akan bergerak sepanjang meja sambil membawa eretan lintang (cross slide) dan eretan atas (upper cross slide) dan dudukan pahat. Sumber utama dari semua gerakkan tersebut berasal dari motor listrik untuk memutar pulley melalui sabuk (belt).

Mesin Freis

Freis merupakan suatu proses memakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan menggunakan pahat yang diputar oleh poros spindel mesin. Pahat Freis (milling cutter) termasuk jenis pahat bersisi potong banyak (multiple point tool). Mesin Freis dari segi operasionalnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a Mesin Freis horizontal
b Mesin Freis vertikal
c Mesin Freis serba guna (universal)
d Mesin Freis khusus (special purpose)

Jenis-jenis Freis tersebut diatas memiliki prinsip kerja yang sama. Yang membedakan adalah ukuran benda kerja yang dapat dikerja oleh mesin Freis.

• Prinsip Kerja Mesin Freis

Proses pemotongan (penyayatan) dilakukan dengan menggunakan pahat yang diputar oleh arbor yang berhubungan langsung dengan poros spindel mesin. Posisi pahat pada arbor dapat diatur dengan mengatur letak cincin pemisah (spacer). posisi dari poros arbor atau poros merupakan penentu dari jenis apakah mesin Freis ini, apakah jenis mesin Freis horizontal atau pun vertikal. Untuk mengerjakkan benda-benda kerja yang mempunyai bentuk yang rumit dan ukuran yang relatif besar yang tidak mungkin dikerjakan pada mesin-mesin Freis horizontal maupun vertikal maka dibuat mesin Freis khusus (special purpose).

• Bagian-Bagian Mesin Freis

Mesin ini terdiri dari badan atau kolom yang menyangga ram. Pada bagian depan kolom dipasang batang bimbing (guide) slide ways sehingga lutut (knee) yang ditumpu oleh batang ulir bergerak naik-turun secara lurus. Diatas lutut dipasang pelana (sddle) yang bergerak kemuka dan kebelakang sepanjang guide. Diatas pelana dipasangkan meja yang dapat bergerak ke kiri dan ke kanan agar lutut dapat bergerak naik turun, pelana bergerak maju mundur dan meja bergerak ke kiri dan ke kanan. Tujuan dari gerakan-gerakan pada mesin Freis untuk memenuhi gerak umpan (feeding) tetapi juga untuk memudahkan dalam menentukan posisi pahat terhadap benda kerja sebelum proses pemotongan dilakukan.

Mesin Scrap

Scarp merupakan proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan oleh badan mesin (ram) yang meluncut bolak-balik pada Gerak potong pahat pada benda kerja merupakan gerakan lurus translasi. Dalam hal ini benda kerja dalam keadaan diam dan pahat bergerak lurus translasi. Pada saat pahat melakukan gerak balik, benda kerja juga melakukan gerak umpan (feeding). Sehingga punggung pahat akan tersangkut pada benda kerja yang sedang bergerak tersebut. Untuk menghindari gangguan ini, pangkal dudukan pahat diberi engsel sehingga punggung pahat dapat berayun pada waktu balik menyentuh benda kerja.

• Prinsip Kerja Mesin Scrap

Benda kerja diletakkan dan dijepit pada meja. Posisi meja dapat juga dinaik-turunkan sepanjang pembimbing melalui poros ulir. Dengan memutar poros ulir yang telah dihubungkan dengan roda gigi maka gerakkan suap dari meja sepanjang pembimbing dapat dilakukan. Dimana roda gigi digerakkan oleh tuas pengungkit secara berkala. Gerakkan berkala ini dibuat sedemikian rupa sehingga poros ulir hanya bergerak pada waktu ram melakukan gerak balik membawa dudukan pahat. Gerak putar dari motor listrik diubah menjadi gerak translasi pada ram.

• Bagian-Bagian Mesin Scrap

Diatas badan mesin terdapat ram yang meluncur bolak-balik pada pembimbing (guide). Didepan ram dipasang leher sehingga dudukan pahat dapat berputar posisi ke kiri dan ke kanan. Tuas pemutar digunakan untuk menurunkan/menaikkan posisi dudukan pahat sehingga ujung pahat posisinya terhadap benda kerja dapat diatur.

Mesin Gerinda

Mesin gerinda merupakan proses menghaluskan permukaan yang digunakan pada tahap finishing dengan daerah toleransi yang sangat kecil sehingga mesin ini harus memiliki konstruksi yang sangat kokoh.

• Bagian-bagian Mesin Gerinda

 Bagian badan mesin yang biasanya terbuat dari besi tuang yang memiliki sifat sebagai peredam getaran yang baik. Fungsinya adalah untuk menopang meja kerja dan menopang kepala rumah spindel.
 Bagian poros spindel merupakan bagian yang kritis karena harus berputar dengan kecepatan tinggi juga dibebani gaya pemotongan pada batu gerindanya dalam berbagai arah.
 Bagian meja juga merupakan bagian yang dapat mempengaruhi hasil kerja proses gerinda karena diatas meja inilah benda kerja diletakkan melalui suatu ragum ataupun magnetic chuck yang dikencangkan pada meja ini.

Mesin Gergaji

Gergaji merupakan alat perkakas yang berguna untuk memotong benda kerja. Mesin gergaji merupakan mesin pertama yang menentukan proses lebih lanjut. Dapat dimaklumi bahwa mesin ini memiliki kepadatan operasi yang relatif tinggi pada bengkel-bengkel produksi. Gergaji tangan biasa digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana dalam jumlah produksi yang rendah. Untuk pekerjaan-pekerjaan dengan persyaratan ketelitian tinggi dengan kapasitas yang tinggi diperlukan mesin-mesin gergaji khusus yang bekerja secara otomatik dengan bantuan mesin.
Mesin-mesin gergaji memiliki konstruksi yang beragam sesuai dengan ukuran, bentuk dan jenis material benda kerja yang akan dipotong. Adapun klasifikasi mesin-mesin gergaji yang terdapat digunakan adalah sebagai berikut:
a Mesin gergaji bolak-balik (Hacksaw-Machine)

Mesin gergaji ini umumnya memiliki pisau gergaji dengan panjang antara 300 mm sampai 900 mm dengan ketebalan 1,25 mm sampai 3 mm dengan jumlah gigi rata-rata antara 1 sampai 6 gigi iper inchi dengan material HSS. Karena gerakkan yang bolak-balik, maka waktu yang digunakan untuk memotong adalah 50%.

b Mesin gergaji piringan (Circular Saw)

Diameter piringan gergaji dapat mencapai 200 sampai 400 mm dengan ketebalan 0,5 mm dengan ketelitian gerigi pada keliling piringan memiliki ketinggian antara 0,25 mm sampai 0,50 mm. pada proses penggergajian ini selalu digunakan cairan pendingin. Toleransi yang dapat dicapai antara kurang lebih 0,5 mm sampai kurang lebih 1,5 mm.

c Mesin Gergaji pita (Band Saw)

Mesin gergaji yang telah dijelaskan sebelumnya adalah gergaji untuk pemotong lurus. Dalam hal mesin gergaji pita memiliki keunikan yaitu mampu memotong dalam bentuk-bentuk tidak lurus atau lengkung yang tidak beraturan. Kecepatan pita gergajinya bervariasi antara 18 m/menit sampai 450 m/menit agar dapat memenuhi kecepatan potong dari berbagai jenis material benda kerja.

(adapted from : http://mesin2001.blogspot.com/2007/05/mesin-bubut.html)





Menebus Kesalahan Secara Positif

31 01 2008

MENEBUS KESALAHAN SECARA POSITIF
Ceramah Maha Guru Ching Hai
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Suatu hari ketika Mahatma Gandhi sedang berpuasa di India,
ada seseorang menghampiri beliau dan berkata, “Saya pasti akan masuk
neraka dan tak seorang pun dapat menyelamatkan saya. Tapi saya masih
ingin mempersembahkan makanan untuk Anda karena Anda berpuasa untuk
kami. Saya tidak ingin Anda meninggal karena kelaparan dan menambah
daftar kesalahan saya ketika saya masuk neraka.” Orang itu
menawarkan Gandhi sepotong roti dan memohon kepada Beliau untuk
memakannya, sambil berkata, “Mohon Anda memakan roti ini, saya tidak
akan siap untuk masuk neraka sampai Anda memakan roti ini.”

Gandhi bertanya kepada orang tersebut, mengapa dia berpikir
dia akan masuk neraka. Orang itu menjawab, anaknya telah dibunuh
dalam suatu pertikaian. Jadi, sebagai balasan, dia telah membunuh
anak musuhnya tersebut dengan kejam, tapi sesudahnya dia merasa
sangat menyesal. Gandhi lalu berkata, “Saya tahu satu cara untuk
selamat dari api neraka. Carilah seorang anak lain yang sudah tidak
memiliki orang tua atau anak lainnya yang tanpa orang tua, bawalah
anak itu ke rumah, pelihara dan didiklah dia sehingga menjadi
seorang yang bijaksana. Maka Anda tidak akan masuk neraka.”

Saya pikir cara yang disarankan Gandhi tidak secara langsung
dapat menghapus karma orang itu, kita juga tidak tahu apakah metode
tersebut bisa menyelamatkan orang itu dari neraka. Paling tidak rasa
bersalahnya mungkin akan terhapus selama sisa hidupnya. Juga dia
mungkin mengalami jalinan kebahagiaan antara anak dengan ayah ketika
membesarkan anak tersebutDengan mengadopsi seorang anak yatim piatu,
maka akan membuatnya percaya diri dan puas; hal ini merupakan obat
untuk mengurangi rasa bersalahnya.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Jika orang itu terus menerus mengeluhkan rasa bersalahnya,
hal ini tidak akan menolongnya sama sekali. Siapa yang dapat
menolongnya ? Kita akan menyalahkan diri kita setiap hari, kita
tidak dapat menghapus rasa bersalah dalam hati ketika kita tahu kita
telah melakukan sesuatu yang buruk, kecuali kita mengalami suatu
kegembiraan yang dapat mengurangi rasa bersalah yang terdahulu, dan
menguranginya seolah tidak pernah terjadi.

Ketika kita tenggelam dalam kegelapan, kita tidak dapat
berkomunikasi dengan orang lain; kita menjadi acuh-tak-acuh dengan
apa yang dikatakan orang. Bahkan ketika mereka menceritakan sesuatu
yang lucu, paling-paling kita hanya tersenyum kemudian mengubur
kembali diri kita dalam perasaan negatif, tidak mampu membuat diri
kita bahagia; karena kesenangan itu tidak ada hubungannya dengan
rasa bersalah kita.

Penyesalan yang sesungguhnya ialah mengajar diri sendiri,
membantu diri sendiri, mendukung diri sendiri dan mengingatkan diri
sendiri untuk melakukan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Kita harus mencatat hal-hal yang kita ketahui baik untuk diri
sendiri dan orang lain, dan melakukannya sebaik mungkin. Sementara
itu, kita harus mengubah kebiasaan buruk kita satu per satu hingga
tidak ada yang tersisa.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Jadi, kita perlu untuk memperhatikan kedua aspek itu
daripada berkutat dengan perasaan bersalah setiap hari dan tinggal
dalam kegelapan tanpa mencoba suatu solusi yang positif. Itu tidak
baik dan tidak berguna bagi kita. Kita harus mencari jalan keluar,
dan ketika kita melakukan perbuatan baik, kita akan merasa nyaman,
termotivasi dan secara pelahan-lahan melupakan dosa-dosa kita.
Dengan cara ini kebiasaan buruk kita akan berubah secara alami dan
kita akan memaafkan diri sendiri..

Kita mendengar bahwa pelaku kejahatan masuk neraka untuk
belajar dan menebus kesalahan mereka. Tapi ada cara yang lebih baik,
cara yang lebih positif. Misalnya, jika di masa lalu kita mencuri
uang, sekarang tidak hanya kita berhenti mencuri, tetapi kita juga
harus memberi; kita harus beramal dan membantu orang yang butuh
bantuan. Kita jangan hanya pasif dan negatif, sebaliknya, kita harus
aktif dan positif! Jika kita hanya berhenti melakukan perbuatan
negatif, masih sangat pasif. Kita harus melakukan perbuatan baik
untuk memperbaiki kesalahan yang terdahulu. Tindakan yang aktif dan
positif, dan hal itu dapat menghapus dosa kita..

(Adapted from:http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000622.php)

3 TIPE MANUSIA

Tipe Pertama : MANUSIA BATU
Sebuah batu, bila dicelupkan kedalam air, tidak dapat mengubah air.
Memang sejenak air menjadi keruh akibat butiran pasir atau debu yang
menempel di batu itu. Tapi tak lama, air kembali menjadi bening karena
akhirnya kotoran – kotoran itu mengendap di dasar penampan air.

Tipe manusia seperti BATU ini, tidak dapat memberi pengaruh dan membawa
perubahan terhadap lingkungannya.

Tipe Kedua : MANUSIA SODA
Minuman soda, bila dicampurkan kedalam air, sudah barang tentu akan
mengubah warna air dengan cepat. Kemudian air itu berbusa… naik keatas…
terus keatas… hingga air tumpah dari penampannya. Tapi setelah itu air
menjadi surut dan dengan drastis menjadi berkurang.

Tipe manusia SODA ini, sekilas mampu membawa perubahan pada
lingkungannya.
Tapi sebenarnya, ia menghancurkan lingkungan tersebut. Seolah – olah ia
memotivasi lingkungan, padahal ia menjerumuskan. Hingga akhirnya yang
selamat tinggallah sedikit.

Tipe Ketiga: MANUSIA EFFERVESCENT
Mungkin Anda kenal Redoxon atau CDR. Bagaimana kalau benda ini
dicelupkan kedalam air?
Betul, dengan perlahan air menjadi kuning, kemudian setelah itu berubah
menjadi orange.
Adakah air yang tumpah?, Sedikit sekali bahkan nyaris tak ada.

Tipe manusia EFFERVESCENT, adalah manusia yang mampu memberi pengaruh dan membuat perubahan sejati. Ia mempengaruhi lingkungan dengan
perlahan…perlahan… sabar… hingga akhirnya lingkungannya benar -benar
berubah.
Akankah air menjadi bening kembali?… tentu tidak.
Ia akan tetap berwarna kuning / orange.

(Adapted from: http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000572.php)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.